<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Cinta Hikmah</title>
	<atom:link href="http://cintahikmah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cintahikmah.wordpress.com</link>
	<description>Menikmati Hujanan (Hikmah) Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Dec 2010 12:24:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='cintahikmah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Cinta Hikmah</title>
		<link>http://cintahikmah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://cintahikmah.wordpress.com/osd.xml" title="Cinta Hikmah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://cintahikmah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Perkutut dan Derkuku</title>
		<link>http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/31/perkutut-dan-derkuku/</link>
		<comments>http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/31/perkutut-dan-derkuku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Oct 2010 12:17:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cintahikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ragam Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kuntowijoyo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/31/perkutut-dan-derkuku/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kuntowijoyo Pasar Ngasem adalah pasar burung. Pasar itu terletak dekat Keraton Yogyakarta Hadiningrat supaya para abdi dalem mudah bila mau jalan-jalan ke pasar, mendengarkan nyanyian burung, minum wedang ronde, dan makan jajanan pasar. Di dunia ini tak ada yang lebih riang daripada kicau burung, lebih manis daripada wedang ronde, dan lebih nikmat daripada jajanan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=108&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Oleh <a href="http://wawankurniawan.net/tag/kuntowijoyo">Kuntowijoyo</a></p>
<p>Pasar Ngasem adalah pasar burung. Pasar itu terletak dekat Keraton Yogyakarta Hadiningrat supaya para abdi dalem mudah bila mau jalan-jalan ke pasar, mendengarkan nyanyian burung, minum wedang ronde, dan makan jajanan pasar. Di dunia ini tak ada yang lebih riang daripada kicau burung, lebih manis daripada wedang ronde, dan lebih nikmat daripada jajanan pasar.<br />
<span id="more-108"></span><br />
Maka, kalau pasar lain diramaikan suara orang tawar-menawar, konon, di Pasar Ngasem tawar-menawar dilakukan dengan berbisik. Supaya suara burung lebih jelas kedengaran daripada suara manusia. Ketika para abdi dalem mengalami pemiskinan, masa kejayaan mereka pun berlalu. Pengunjung baru pasar ialah orang kota biasa. Pekerjaannya juga berbeda jauh dengan abdi dalem. Mereka adalah guru, pedagang, pengusaha, dan mahasiswa.</p>
<p>Kemudian ada perubahan lain di Pasar Ngasem: tidak siapa yang datang, tetapi apa yang dijual. Perkutut menghilang dari pasar. Perkutut tak lagi jadi dagangan pasar. Orang menawarkan perkutut dari mulut ke mulut, menjual dari orang ke orang. Perkutut hanya bagi penggemar. Walhasil, orang-orang kota kebanyakan tidak lagi dapat menikmati suara perkutut di Pasar Ngasem. Tak ada lagi suara &#8220;hur ketekuk-kuk, hur ketekuk-kuk&#8221; sambil orang menyeruput wedang bajigur (kopi, gula Jawa, santan, butir-butir kelapa).</p>
<p>Nah, akhir-akhir ini, derkuku-lah yang menghilang dari pasar. Sebelumnya, dengan mudah ditemui sangkar-sangkar derkuku. Sangkar-sangkarnya ditaruh dekat puter. Jadi akan terdengar bunyi &#8220;derkuku-ku, derkuku-ku&#8221;, lalu disusul &#8220;kuk geruk-kok. kuk geruk-kok&#8221;. Setelah perkutut, sekarang giliran derkuku naik status. Tandanya?</p>
<p>Satu, derkuku tak ada lagi di Pasar Ngasem. Dua, pedagang dengan spesialisasi burung derkuku tidak lagi muncul di pasar karena sudah kaya. Kabarnya, seorang pedagang derkuku sekarang punya rumah gedung, naik mobil, dan selalu pakai pantalon, bukan lagi pakai sarung.</p>
<p>Begitu populernya derkuku, hingga rumah orang kaya di Yogya sepertinya belum sah tanpa kandang derkuku. Kandang derkuku berbeda dengan sangkar perkutut: besar, berwibawa, kayu jati, serta kasa kawat. Harga derkuku bersaing ketat dengan harga perkutut, sama-sama mahal. Ada kontes-kontes burung perkutut, ada kontes-kontes derkuku.</p>
<p>Di Yogya, ada APP (Asosiasi Penggemar Perkutut), ada APD (Asosiasi Penggemar Derkuku). Perkutut dan derkuku sebenamya sama bentuknya, hanya derkuku lebih besar. Tak tanggung-tanggung: kalau APP diketuai seorang GBPH (Gush Bendara Pangeran Harya) dari istana Kasultanan, APD berhasil menggaet seorang KPH (Kanjeng Pangeran Harya) dari pura Pakualaman. APP dan APD bersaing berat. Kalau APP diberitakan menghadap Gubernur DIY Pakualam VIII, keesokan harinya pasti APD ganti menghadap. Kota seperti terbelah. Kalau orang kaya yang satu sudah memelihara perkutut, orang kaya yang lain akan memelihara<br />
derkuku.</p>
<p>Persaingan antara perkutut dan derkuku sengaja dimanfaatkan untuk promosi pariwisata. Yogya sudah terkenal dengan julukan &#8220;kota pelajar&#8221;, &#8220;kota budaya&#8221;. dan &#8220;kota kesenian&#8221;. Sekarang gelar itu ditambah dengan &#8220;kota klangenan&#8221;, &#8220;kota perkutut&#8221;, dan &#8220;kota derkuku&#8221;. Perkutut dan derkuku jadi identitas kota. </p>
<p>Celakanya, koran-koran di kota itu pun berpihak. Kedaulatan Rakyat mengulas panjang tentang kelebihan suara &#8220;koong&#8221; burung perkutut. Di hari lain, koran itu menulis &#8220;Perkutut dan Kepribadian Nasional&#8221;. Di hari lain lagi, &#8220;Ramalan Berdasar Suara Burung Perkutut&#8221;. Bernas mengatakan bahwa derkuku melambangkan kebangkitan kelas menengah, perkutut melambangkan priyayi, feodalisme, klenik, dan budaya santai, alon-alon waton klakon.</p>
<p>Dua koran itu berpolemik. KR membela perkutut: Bernas derkuku. menyebut perkutut sebagai Orla dan derkuku Orba. Yogya Pos bersikap netral dan menyarankan agar polemik dihentikan karena tak bermanfaat.</p>
<p>M. Amien Rais, Ketua Umum PP Muhammadiyah, mengingatkan, &#8220;Awas politisasi klangenan. Jangan sampai gara-gara klangenan, persatuan dan kesatuan nasional goyang.&#8221;</p>
<p>Ketua Umum PBNU, KH Abdurrahman Wahid, yang sedang di Yogya, ditanyai wartawan. &#8220;Itu nggak apa-apa. Politik itu hak semua warga negara. Wong agama ndak melarang, kok.&#8221; katanya.</p>
<p>Untunglah jajaran ABRI, baik Korem 072 &#8220;Pamungkas&#8221; maupun Polda DIY, tidak ikut campur sehingga konllik terbuka dapat dihindari.</p>
<p>Kontroversi sekitar perkutut dan derkuku itu membuat prihatin tokoh-tokoh masyarakat. DPRD Kodya Yogyakarta bersidang. </p>
<p>&#8220;Saudara-saudara. Soal pilih perkutut atau derkuku itu hak prerogatif Mandataris MPR. Serahkan saja padanya. Siapa pun yang terpilih.&#8221; usul seorang anggota dari F-KP.</p>
<p>&#8220;Setuju!&#8221; kata anggota-anggota dari F-PP dan F-PDI.</p>
<p>Disetujui bahwa persoalan klangenan diserahkan kepada presiden terpilih.</p>
<p>Ketua DPRD ditugasi menulis surat.</p>
<p>&#8220;Paduka Presiden,&#8221; tulis Ketua.</p>
<p>&#8220;Jangan &rsquo;paduka,&rsquo; itu feodal.&#8221; kritik Wakil Ketua.</p>
<p>&#8220;Bapak Presiden.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan &#8220;Bapak,&#8221; itu paternalistis.&#8221;</p>
<p>Dua orang pimpinan DPRD itu berpikir keras. Berjalan-jalan, jari telunjuk di dahi.</p>
<p>&#8220;Aku tahu!&#8221; kata Ketua. </p>
<p>&#8220;&rsquo;Saudara Presiden&rsquo; saja. Bukankah presiden itu hakikatnya saudara kita juga?&#8221;</p>
<p>&#8220;Anggap saja begitu,&#8221; kata Wakil Ketua.</p>
<p>Itu berarti bahwa masalah perkutut versus derkuku harus menunggu sampai Maret 1998.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p><strong><em>Bebek mungsuh mliwis</em>. Sama-sama hebat, sama-sama kuat, sama-sama pandai.</strong></p>
<p>Sumber: UMMAT No 24 Tahun III 29 Desember 1997/29 Sya&rsquo;ban 1418 H hal. 47</p>
<p>Disebarluaskan oleh <a href="http://wawankurniawan.net"><strong>Wawan Kurniawan</strong></a> dan <a href="http://cintahikmah.wordpress.com"><strong>Cinta Hikmah</strong></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintahikmah.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintahikmah.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintahikmah.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintahikmah.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintahikmah.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintahikmah.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintahikmah.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintahikmah.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintahikmah.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintahikmah.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintahikmah.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintahikmah.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintahikmah.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintahikmah.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=108&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/31/perkutut-dan-derkuku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cintahikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kancil Pilek*</title>
		<link>http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/24/kancil-pilek/</link>
		<comments>http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/24/kancil-pilek/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Oct 2010 12:15:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cintahikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ragam Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kuntowijoyo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/24/kancil-pilek/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kuntowijoyo Ketika sang Macan jadi raja, sekretaris pribadi, menteri, satpam, bahkan tukang sapunya, semuanya adalah macan. Maksudnya, agar rahasia kerajaan lebih terjaga. Segalanya akan mudah bila di sekitar raja dan istana hanya ada pejabat yang sebangsa dengan raja. Nepotisme yang merupakan kejahatan di dunia manusia, itu hal biasa di dunia binatang. Sekalipun sang raja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=106&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Oleh <a href="http://wawankurniawan.net/tag/kuntowijoyo">Kuntowijoyo</a></p>
<p>Ketika sang Macan jadi raja, sekretaris pribadi, menteri, satpam, bahkan tukang sapunya, semuanya adalah macan. Maksudnya, agar rahasia kerajaan lebih terjaga. Segalanya akan mudah bila di sekitar raja dan istana hanya ada pejabat yang sebangsa dengan raja. Nepotisme yang merupakan kejahatan di dunia manusia, itu hal biasa di dunia binatang.<br />
<span id="more-106"></span><br />
Sekalipun sang raja terkenal kejam, tak kenal ampun dengan bangsa lain, toh ia toleran dan suka berbuat baik dengan sesamanya. Bangsa lain jangan berani berbuat salah, hukuman serendah-rendahnya ialah dicakar, setinggi-tingginya dilalap habis. Tetapi, terhadap sesama macan, ia suka ngobrol, mengundang makan, atau sekadar bercengkerama. Dengan sesama macan, yang salah diberi hadiah, yang lupa ditertawakan. Pendek kata, <em>mban cinde mban siladan</em> atawa pilih kasih. Apa boleh buat, habis dia raja.</p>
<p>Nah, pada suatu hari, ketika sang raja duduk di singgasana, hidungnya menangkap bau pesing di auditorium. Aneh bin ajaib: auditorium raja berbau pesing. Ada yang kencing di situ. Ini sudah keterlaluan, pikirnya. Tak bisa djtolerir, siapa pun yang berbuat. Hidung raja cengar-cengir ke sana-sini. Tak salah lagi! Binatang! Ini mesti perbuatan binatang yang mau pendek umurnya, yang mau cupet hidupnya, yang pingin lekas mati! Akan tetapi,  dia tidak mau tergesa-gesa. Sebab, yang berani masuk ke istana pasti bangsa harimau juga. Maka yang akan dikerjakannya ialah dua hal: minta kesaksian bangsa lain tentang bau itu, lalu menangkap pelakunya.</p>
<p>Dipanggilnya sekretaris pribadi untuk mengumpulkan bangsa non-macan. Pihak ketiga pasti objektif. Yang pertama adalah wakil bangsa sapi. Dari rumah, banyak yang berpesan supaya ia berkata jujur, apa adanya, dan tidak ditutup-tutupi.</p>
<p>&#8220;Jujur itu mujur,&#8221; kata mereka.&#8221;</p>
<p>Sebagai wakil bangsa sapi, dikirim yang muda, pemberani, dan jujur.</p>
<p>Sesampai di istana, sang raja bertanya, &#8220;Bagaimana pendapatmu, bangsal ini berbau pesing apa tidak?&#8221;</p>
<p>Sapi muda pun mengendus-ngenduskan hidungnya, lalu berkata, &#8220;Baginda, bangsal ini sungguh sangat pesing.&#8221;</p>
<p>Di luar dugaan, raja itu marah besar. &#8220;Bagaimana kau bisa berkata begitu tentang istana Raja, he!&#8221;</p>
<p>Ia berdiri, taringnya keluar, mengaum, dan kuku-kukunya memanjang.</p>
<p>Singkat cerita, sapi muda tak pernah kembali ke rummah, habis dilalap sang raja dan koneo-konconya.</p>
<p>Kisah tentang sapi itu segera tersebar ke seluruh pelosnk. Semua warga gemetar ketakutan. Maka, ketika giliran bangsa kambing memberi kesaksian, semua berpesan kepada wakil bangsa kambing untuk berhati-hati.</p>
<p>&#8220;Utamakan keselamatan.&#8221; pesan mereka.</p>
<p>Di istana, pertanyaan yang sama diajukan oleh raja. &#8220;Benarkah bangsal ini berbau pesing?&#8221;</p>
<p>Kambing pun pura-pura mengendus-ngendus, sekalipun ia sudah tahu jawabannya. Katanya, &#8220;Baginda, menurut hidung saya, tak ada bau pesing di bangsal ini. Malah sepertinya wangi sekali.&#8221;</p>
<p>Di luar dugaan, raja itu marah besar. &#8220;Bohong, bohong! Betapa beraninya kau membohongi Raja!&#8221;</p>
<p>Ia berdiri. taringnya keluar, mengaum, dan kukunya memanjang.</p>
<p>Singkat cerita, kambing tak pernah kembali ke rumah, habis dilalap juga.</p>
<p>Nasib kambing itu pun terdengar oleh seluruh warga. Mereka menjadi kecut. Warga frustrasi. </p>
<p>Di utara, warga bergerombol dan saling bertanya, &#8220;Bagaimana?&#8221;</p>
<p>Di selatan. warga bergerombol dan saling bertanya, &#8220;Apa akal?&#8221;</p>
<p>Di barat. mereka saling bertanya, &#8220;Bagaimana?&#8221;</p>
<p>Di timur, mereka saling bertanya. &#8220;Apa akal?&#8221;</p>
<p>Sementara itu, ada desakan dari kerajaan agar salah satn dikirim sebagai wakil.</p>
<p>Akhirnya, pilihan warga jatuh pada kancil. Maka kancil pun ke istana dengan dandanan khusus. Lehenya terbungkus halsdoek. Di tangannya, terdapat selembar saputangan yang sebentar-sebentar mampir ke hidungnya. Jebres, jebres! Sambil bersin-bersin, dia masuk istana.</p>
<p>Dari singgasananya, sang Macan bertanya, &#8220;Betulkah bangsal ini berbau pesing?&#8221;</p>
<p>Jebres, jebres! Kancil pun menjawab, &#8220;Baginda melihat sendiri saya sedang pilek. Maka hidung saya tak bisa mencium apa pun.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba macan itu menunjukkan taringnya dan mengaum. Tetapi, taring dan auninya berarti tawa terkekeh-kekeh, menyadari kehndohannya sendiri.</p>
<p>&#8220;Ya, aku tahu. Sekarang kau boleh pulang.&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p><strong>Dilarang keras MTWT* atau <em>matur wantah</em>, alias bicara apa adanya.</strong></p>
<p>*Dari penuturan H M. Amien Rais dari ibundanya.<br />
**Istilah MTWT digunakan oleh Indische Journalisten Bond pada 1914 (Solo. Doenia Bergerak)</p>
<p>Sumber: UMMAT No. 23 Tahun II 12 Mei 1997/5 Muharam 1418 H hal. 46</p>
<p>Disebarluaskan oleh <a href="http://wawankurniawan.net"><strong>Wawan Kurniawan</strong></a> dan <a href="http://cintahikmah.wordpress.com"><strong>Cinta Hikmah</strong></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintahikmah.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintahikmah.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintahikmah.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintahikmah.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintahikmah.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintahikmah.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintahikmah.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintahikmah.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintahikmah.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintahikmah.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintahikmah.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintahikmah.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintahikmah.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintahikmah.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=106&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/24/kancil-pilek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cintahikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kancil Mabuk</title>
		<link>http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/17/kancil-mabuk/</link>
		<comments>http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/17/kancil-mabuk/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Oct 2010 12:14:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cintahikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ragam Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kuntowijoyo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/17/kancil-mabuk/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kuntowijoyo Kancil membawa botol di tangan. Sempoyongan, terhuyung-huyung. Anak-anak para penghuni hutan membuntutinya ke mana pun ia pergi, sehingga mirlp karnaval. Di bawah setiap pohon besar, dia berhenti. Dikelilingi para penghuni, membentuk lingkaran, ia mulai mengoceh: &#8220;Saudara-saudara. Ketika penjahat berbicara tentang akal sehat, ketika pencuri berkhotbah dengan Kitab Suci, ketika yang jahil pandai mendalil, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=104&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Oleh <a href="http://wawankurniawan.net/tag/kuntowijoyo">Kuntowijoyo</a></p>
<p>Kancil membawa botol di tangan. Sempoyongan, terhuyung-huyung. Anak-anak para penghuni hutan membuntutinya ke mana pun ia pergi, sehingga mirlp karnaval. Di bawah setiap pohon besar, dia berhenti. Dikelilingi para penghuni, membentuk lingkaran, ia mulai mengoceh:<br />
<span id="more-104"></span><br />
&#8220;Saudara-saudara. Ketika penjahat berbicara tentang akal sehat, ketika pencuri berkhotbah dengan Kitab Suci, ketika yang jahil pandai mendalil, rusaklah tatanan hutan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Horeee! Horeee!&#8221; anak-anak binatang bersorak.</p>
<p>Setiap berhenti, ia dikerumuni dan berbicara kalimat-kalimat yang sama. Anak-anak bersorak. Hanya polisi-polisi binatang yang direkrut dari suku anjing mulai gelisah. Dari hari ke hari kecuri-gaan mereka bertambah-tambah.</p>
<p>&#8220;Dia tidak teler.&#8221;</p>
<p>&#8220;Omongannya urut.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kata-katanya masuk akal. Sesuai kenyataan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Husss! Husss!&#8221;</p>
<p>&#8220;Pidatonya berbahaya!&#8221;</p>
<p>&#8220;Makar!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita harus lapor.&#8221;</p>
<p>Binatang yang mengerumuni kancil bertambah hari bertambah banyak. Jadilah para binatang polisi semakin geram. Soalnya, kalau terjadi apa-apa di hutan, merekalah yang bertanggung jawab. Mereka melapor kepada Kepala Polisi. Kepala itu sudah tahu duduk perkaranya.</p>
<p>&#8220;Pak Kepala, kancil membahayakan negeri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, negeri kita kuat, aman, makmur, dan sentosa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pidato-pidato kancil ada potensi menghasut.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak ada yang percaya omongan pemabuk.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi, Pak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak ada tetapi, kembalilah ke tugas masing-masing.&#8221;</p>
<p>Tidak berhasil meyakinkan Kepala, mereka kembali. Memang ada perbedaan persepsi antara atas dan bawah, antara mereka yang hanya memberi perintah-perintah dengan mereka yang ada di lapangan. </p>
<p>Bagi mereka yang di lapangan, kancil mabuk benar-benar seperti klilip di mata.</p>
<p>Bagi penghuni hutan, melihat kancil membawa botol, berteduh di bawah pohon besar, dan berpidato sudah menjadi bagian dari hidup. Kalau kebetulan hujan besar dan kancil tidak muncul, rasa-rasanya ada yang kurang. Kancil, botol, dan pidato jadi sebuah institusi. Anak-anak, remaja, pemuda, dan para tetua binatang hafal di luar kepala pidato kancil.</p>
<p>Tiba-tiba kancil menghilang. Lenyap begitu saja, wusss. Tak ada lagi botol, tak ada lagi pidato. Anak-anak yang mengharap kemunculannya hanya bisa gigit jari. Binatang-binatang kehilangan hiburan langka. Di bawah pohon besar, tempat yang biasa disinggahi kancil, binatang-binatang berseliweran sambil mengharap kalau-kalau kancil muncul. Tetapi tidak, kancil tetap tak kelihatan batang hidungnya.</p>
<p>Tiba-tiba-apa boleh buat memang tiba-tiba-di setiap pohon besar muncul &#8220;kancil-kancil&#8221; baru yang terdiri dari kambing, kelinci, kucing, sapi, dan sebagainya. Semua meniru gaya, suara, dan isi pidato kancil. Kembali hutan jadi semarak, malah lebih ramai. Tidak perlu lagi karnaval. Mereka cukup membentuk lingkaran di bawah pohon besar. </p>
<p>Anak-anak kembali bersorak, &#8220;Horeee! Horeee!&#8221;</p>
<p>Binatang-binatang polisilah yang dibuat sibuk.</p>
<p>&#8220;Kok, malah banyak!&#8221;</p>
<p>&#8220;Hilang satu tumbuh dua puluh satu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini bagaimana?&#8221;</p>
<p>Mereka pergi ke Kepala Polisi.</p>
<p>Sambil geleng-geleng kepala dia berkata: &#8220;Ck. ck. Sudah kubilang, biarkan saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dibiarkan bagaimana, Pak?&#8221;   ¦</p>
<p>Sementara mereka omong-omong, lima puluhan binatang muda datang.</p>
<p>&#8220;Kembalikan kancil!&#8221;</p>
<p>&#8220;Suara kancil; suara kami!&#8221;</p>
<p>&#8220;Mana tanggung jawabmu?&#8221;</p>
<p>Kepala Polisi muncul.</p>
<p>&#8220;Huuuu!&#8221; sambut mereka. </p>
<p>&#8220;Tenang, tenang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Huuuu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kami sedang mencari kancil.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kura-kura dalam perahu, huuuu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Beri kami waktu.&#8221;</p>
<p>Kepala Polisi marah-marah kepada anak buahnya.</p>
<p>&#8220;Mesti ada yang melanggar disiplin. Kuberi kalian tujuh kali matahari terbit. Kuperintahkan, kembalikan kancil, sehat walafiat. Titik.&#8221;</p>
<p>Tetangga negeri, tempat suku kambing, mendengar bahwa kancil telah hilang. Negeri tetangga itu mengirim utusan menanyakan keberadaan kancil. Seperti diketahui, kancil dan kambing bersaudara. Mereka mengancam, kalau dalam waktu tertentu, kancil tidak kembali, aliran sungai yang melewati Negeri Kambing akan dialihkan.</p>
<p>Akhirnya kaneil kembali. Ia seperti semula, tapi kali ini tanpa botol, tidak sempoyongan, tidak terhuyung. </p>
<p>&#8220;Saudara-saudara. Ketika penjahat berbicara tentang akal sehat&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p><em>&#8220;&#8230;. mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?&#8221;</em> (Q.S. Ash-Shaff, 61: 3)</p>
<p>Sumber: UMMAT No. 44 Tahun IlI 25 Mei 1998/28 Muharam 1419 H hal.41</p>
<p>Disebarluaskan oleh <a href="http://wawankurniawan.net"><strong>Wawan Kurniawan</strong></a> dan <a href="http://cintahikmah.wordpress.com"><strong>Cinta Hikmah</strong></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintahikmah.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintahikmah.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintahikmah.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintahikmah.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintahikmah.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintahikmah.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintahikmah.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintahikmah.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintahikmah.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintahikmah.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintahikmah.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintahikmah.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintahikmah.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintahikmah.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=104&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/17/kancil-mabuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cintahikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Interviu dengan Kuda</title>
		<link>http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/10/interviu-dengan-kuda/</link>
		<comments>http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/10/interviu-dengan-kuda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Oct 2010 12:12:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cintahikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ragam Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kuntowijoyo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/10/interviu-dengan-kuda/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kuntowijoyo Seperti diketahui, di jajaran Polda Metro Jaya ada beberapa kompi Pasukan Berkuda. Tetapi selama para mahasiswa mengadakan gerakan reformasi dan meletupnya kerusuhan-kerusuhan di Jakarta tidak seekor pun tampak batang hidungnya. Ini mengherankan. Nah, majalah Anda menerjunkan seorang wartawan dan seorang fotografer menemui kuda-kuda itu di kandangnya untuk interviu. Di bawah ini adalah hasil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=102&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Oleh <a href="http://wawankurniawan.net/tag/kuntowijoyo">Kuntowijoyo</a></p>
<p>Seperti diketahui, di jajaran Polda Metro Jaya ada beberapa kompi Pasukan Berkuda. Tetapi selama para mahasiswa mengadakan gerakan reformasi dan meletupnya kerusuhan-kerusuhan di Jakarta tidak seekor pun tampak batang hidungnya. Ini mengherankan.<br />
<span id="more-102"></span><br />
Nah, majalah Anda menerjunkan seorang wartawan dan seorang fotografer menemui kuda-kuda itu di kandangnya untuk interviu. </p>
<p>Di bawah ini adalah hasil interviu dengan seekor kuda yang jadi kendaraan Komandan.</p>
<p><strong>Kabarnya Anda dari Australia. Apa yang ada di benak pada waktu mendengar bahwa Anda akan dikirim ke Indonesia?</strong></p>
<p>Iekhekheh brr.. brr. Tentu saja aku sangat senang. Indonesia terkenal di mana-mana. Subur makmur. Semua yang ditanam tumbuh, semua yang dibeli murah. Aman sentosa, sejahtera. Bukit-bukit mengandung bahan tambang. Hutannya luas; untuk konservasi, wisata, dan tanaman industri. Sawahnya menguning bagai permadani. Lautnya kaya ikan, tambak-tambak udang di pantai.</p>
<p><strong>Ngejek, ni.. ye. Kuda Australia kok mirip dalang wayang.</strong></p>
<p>Ya, ini terusnya. Tambang-tambang disewakan ke perusahaan asing, hutan sudah dikapling-kapling. (Tiba-tiba kuda itu meninggikan suaranya) Serakah, serakah! Rakus, rakus! Rampok, rampok! Pencuri, pencuri!</p>
<p><strong>Sabar, sabar, Mas. Seharusnya Anda konservatif. Sebelum sampai di sini, Anda dididik di <em>ranch</em> Bogor, milik Keluarga Cendana. Mestinya dikatakan bahwa betul bukit disewakan, tapi uang sewanya untuk pembangunan. Betul, hutan dikapling, tapi pabrik plywood, toh, menyerap tenaga kerja rakyat. Ngomong-ngomong, tiba di sini hasil kolusi, ya?</strong></p>
<p>Sumpah, tho! Tidak ada kolusi-kolusian di ABRI.</p>
<p><strong>Para mahasiswa menuntut supaya KKN dihapuskan. Tahu KKN?</strong></p>
<p>Wah, jangan meremehkan begitu. Jelek-jelek, aku ini kualitas impor, Iho.</p>
<p><strong>Ta, sudah. Bagaimana pendapatmu tentang perubahan akhir-akhir ini?</strong></p>
<p>Itu perubahan menuju pemerintahan rasional.</p>
<p><strong>Soal lain. Sebagai kuda Australia, Anda ini makan rumput atau makan roti?</strong></p>
<p>Lho, pertanyaan yang aneh! Setiap kuda pasti makan rumput.</p>
<p><strong>Pertanyaan itu tidak aneh. Di sini orang makan tanker, makan emas, makan gedung, makan stiker. Di mana merumput?</strong></p>
<p>Di lapangan. Di situlah aku jatuh cinta pada Indonesia.</p>
<p><strong>Terus?</strong></p>
<p>Di situ pula, murid-murid sebuah SMU berolahraga.</p>
<p><strong>Terus?</strong></p>
<p>Hi&#8230; hik, malu aku mengatakannya.</p>
<p><strong>Malu bagaimana?</strong></p>
<p>Aku jatuh cinta. Ada seorang siswi yang kolokan, suka mengelus-elus aku. Katanya, sayang aku suka lari-lari telanjang, kalau tidak, pasti aku sudah jadi pacarnya.</p>
<p><strong>Tahu nggak? Itu rayuan gombal. Teruskan.</strong></p>
<p>Katanya, namaku menunjukkan wujudku. &#8220;Kuda&#8221; itu dalam bahasa Jawa artinya <em>mlaku wuda</em>, berjalan telanjang. Kira-kira, dia sekarang mahasiswi tahun kedua. Kalau saja saya tidak mogok, pasti harus berhadapan dengan dia.</p>
<p><strong>Apa? Mogok?</strong></p>
<p>Ya. Ada rencana kami akan diikutsertakan pasukan Dalmas (Pengendalian Massa) pada 20 Mei di sekitar Monas.</p>
<p><strong>Ini menarik! Apa yang terjadi kemudian?</strong></p>
<p>Ada komando dari atasan supaya kami siaga. Keadaan Jakarta gawat. Ada kerusuhan, perusakan, pembakaran, dan pen-jarahan di mana-mana. Kami, para kuda, berunding.</p>
<p>&#8220;Di Monas kita berhadapan dengan mahasiswa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan. Perusuh.&#8221;</p>
<p>Tapi, demonstran.&#8221;</p>
<p>Tentu saja, aku ingat si dia. Kalau-kalau ketemu dia, di mana muka ini akan ditaruh? Walhasil, kami memutuskan untuk mogok. Tapi, pagi hari tanggal 20 Mei, kami digiring ke lapangan rumput. Tidak ke Monas. Belakangan, kami tahu bahwa tidak ada apa-apa di Monas. demonstrasi itu urung diadakan. Kabarnya, hanya barikade-barikade kawat berduri telanjur dipasang.</p>
<p><strong>Terima kasih, Anda masih punya kemanusiaan, eh.. perkudaan. Tidak ada hukuman bagi pemogok?</strong></p>
<p>Tidak seorang pun tahu bahwa kami akan mogok.</p>
<p><strong>Kalau sekarang diperintahkan, bagaimana?</strong></p>
<p>Harus dibedakan, demonstrasi dulu dan sekarang. Sekarang tidak murni lagi. Tapi ditunggangi, memaksakan kehendak, tidak peduli penderitaan rakyat. Rakyat lapar. Mereka tidak rasional.</p>
<p>Ada agenda politik di balik manuver-manuver atas nama reformasi total.</p>
<p><strong>Sebagai kuda, Anda terlalu pandai.</strong></p>
<p>Apa bedanya kuda dengan manusia?</p>
<p><strong>Bagaimana kalau Anda tiba-tiba diangkat jadi profesor ilmu politik?</strong></p>
<p>IekhekheK brr.. brr.</p>
<p><strong>Kalau sebagian orang sangat kaya dan yang lainnya sangat papa, hasilnya ialah demokrasi yang ekstrem atau oligarki yang mutlak, atau despotisme akan datang menggantikan kedua ekses itu (Aristoteles, 384-322 SM, filsuf Yunani).</strong></p>
<p>Sumber: UMMAT No. 49 Thn. Ill, 29 Juni 1998/4 Rabiul Awal 1419 H hal. 41</p>
<p>Disebarluaskan oleh <a href="http://wawankurniawan.net"><strong>Wawan Kurniawan</strong></a> dan <a href="http://cintahikmah.wordpress.com"><strong>Cinta Hikmah</strong></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintahikmah.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintahikmah.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintahikmah.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintahikmah.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintahikmah.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintahikmah.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintahikmah.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintahikmah.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintahikmah.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintahikmah.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintahikmah.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintahikmah.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintahikmah.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintahikmah.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=102&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/10/interviu-dengan-kuda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cintahikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Biri-Biri Berbulu Biru</title>
		<link>http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/03/biri-biri-berbulu-biru/</link>
		<comments>http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/03/biri-biri-berbulu-biru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Oct 2010 12:09:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cintahikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ragam Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kuntowijoyo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/03/biri-biri-berbulu-biru/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kuntowijoyo Setelah reformasi, desa itu kedatangan seorang peramal. Di gardu siskamling, dia berhenti. Katanya, desa itu harus dipimpin oleh orang aneh, mempunyai kelebihan, bukan orang biasa-biasa saja. Kalau demikian, maka pemuda-pemuda utara pematang akan berhenti tawur dengan pemuda-pemuda selatan pematang. Mereka biasa tawur hanya karena soal-soal sepele, seperti lirik-melirik di jalan, senggol-menyenggol waktu nonton [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=100&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Oleh <a href="http://wawankurniawan.net/tag/kuntowijoyo">Kuntowijoyo</a></p>
<p>Setelah reformasi, desa itu kedatangan seorang peramal. Di gardu siskamling, dia berhenti. Katanya, desa itu harus dipimpin oleh orang aneh, mempunyai kelebihan, bukan orang biasa-biasa saja. Kalau demikian, maka pemuda-pemuda utara pematang akan berhenti tawur dengan pemuda-pemuda selatan pematang. Mereka biasa tawur hanya karena soal-soal sepele, seperti lirik-melirik di jalan, senggol-menyenggol waktu nonton layar tancep alias bioskop misbar (gerimis bubar), dan dahulu-mendahului bersepeda.<br />
<span id="more-100"></span><br />
Mata semua orang tertuju pada Pak Sani, peternak yang baru-baru ini bikin geger desa karena biri-birinya melahirkan seekor anak dengan bulu berwarna biru. Orang-orang dari desa lain, bahkan dari kota, datang untuk melihat keanehan itu. Dan orang-orang desa menjadi makmur berkat titipan sepeda, sepeda motor, dan bahkan mobil. Tawur hilang, utara dan selatan damai. Lihat, belum jadi kades saja sudah mampu membuat mereka tak bertengkar.</p>
<p>Tentang kambing itu, orang berkomentar:</p>
<p>&#8220;Bulunya biru!&#8221;</p>
<p>&#8220;Darahnya putih!&#8221;</p>
<p>&#8220;Biri-biri bangsawan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Dapat <em>nglungsungi</em>&#8221; Mengganti kulit.</p>
<p>Lalu orang ingat Kades. Kades itu dipersangkakan terlibat KKN dengan tukang foto waktu desa membuat KTP dan terlibat KKN dengan PLN waktu ada program LMD (Listrik Masuk Desa). Pendek kata, warga memutuskan untuk menurunkan Pak Kades, diganti dengan Pak Sani. Sesudah <em>golong</em>, <em>gilig</em>, dan bertekad, warga menuju Balai Desa. Alasan bahwa Kades hanya mau turun berdasarkan pilkades dan bahwa ia tidak melakukan KKN, tidak diterima. Kades harus turun hari itu juga.</p>
<p>Kemudian massa ke kabupaten, berdemo supaya Bupati memecat Kades dan mengangkat Pak Sani. Waktu itu, massa berkuasa, apa boleh buat, Bupati menurut. Pak Sani berusaha keras menolak jabatan itu dengan alasan dia tidak bisa baca-tulis.</p>
<p>&#8220;Kita tidak perlu orang pintar. Pinter <em>keblinger</em> (pintar tersesat). Kita perlu orang aneh,&#8221; kata orang. </p>
<p>Alasan bahwa yang aneh adalah biri-birinya dan bukan dia, juga ditertawakan orang. &#8220;Kaukira kami akan mengangkat biri-biri sebagai Kades?&#8221;</p>
<p>Pak Sani didaulat jadi kades.</p>
<p>Malang, bulu biri-biri itu memudar, makin lama makin putih. Bersama dengan memudarnya bulu biri-biri, kepercayaan orang pada Pak Sani ikut surut. Pengunjung mulai kecewa.</p>
<p>&#8220;Kok, tidak biru betul?&#8221;</p>
<p>&#8220;Matamu yang kurang awas.&#8221;</p>
<p>Rombongan orang yang datang pakai truk juga begitu. Mereka gagal melihat kebiruan bulu biri-biri. Kalau sepasang mata mungkin saja keliru, tetapi tidak untuk tiga puluh lima pasang. </p>
<p>Menyadari akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Pak Sani menyembunyikan biri-birinya. Ia minta diumumkan bahwa tontonan biri-biri ditutup sementara. Para tetangga heran. Ke mana kambing itu pergi.</p>
<p>Kalau ditanyakan pada Pak Sani, jawabnya, &#8220;Sedang berganti kulit!&#8221;</p>
<p>Kambing disembunyikan makin lama makin ke dalam, seiring dengan makin putihnya bulu. Ketika persembunyian sang kambing sampai tempat tidur, istri Pak Sani keberatan. </p>
<p>Pak Sani menemukan akal! Laki-laki pasti ditolong Tuhan, pikirnya. Bagaimana kalau dia mencat biru bulu itu? Bagi peternak seperti dia, itu termasuk pikiran cemerlang. Kabarnya ada cat rambut berwarna biru. Ia pergi ke kota.</p>
<p>Kambing kembali ke kandang. Orang kembali datang. Ada seorang yang usil, membalik-balik bulu biri-biri.</p>
<p>&#8220;Kok, putih di sini?&#8221; Mereka undang Pak Sani alias Pak Kades untuk bertanggung jawab. </p>
<p>Tentu saja, perias pun takkan sanggup mencat rata seekor biri-biri. &#8220;Itulah yang terjadi,&#8221; katanya pasrah. Menceritakan apa adanya.</p>
<p>Warga sibuk mencari pengganti. Kebetulan ada orang selesai <em>tapa mendhem</em>, bertapa dengan dikubur. Orang itu didaulat menjadi kades. Warga juga ke Bupati minta SK.</p>
<p>Kades baru itu suka menganjurkan warganya, &#8220;Kuncinya adalah prihatin,&#8221; katanya dalam setiap sambutan pernikahan, sunatan, dan kematian. &#8220;Saudara-saudara, kuncinya adalah prihatin!&#8221;</p>
<p>Tapi, itu hanya beberapa minggu. Pemuda utara pematang lemparan-lemparan batu dengan pemuda selatan pematang. Gara-garanya sederhana: ada pemuda selatan lewat membawa radio yang kedengarannya seperti dibunyikan keras-keras.</p>
<p>Warga berpikir bahwa Kades tidak cocok, mencari Kades baru.</p>
<p>Kebetulan, ada mahasiswa filsafat sedang KKN di desa itu. Salah seorang yang pandai bergaul pada semua orang selalu mengatakan bahwa satu tambah satu tidak selalu dua. Dua tambah dua tidak selalu empat.</p>
<p>&#8220;Ini aneh!&#8221;</p>
<p>&#8220;Angkat dia jadi Kades!&#8221; Kemudian orang pergi ke kabupaten untuk minta SK.</p>
<p>Sementara orang pergi, ada anggota Pabi (Partai Banyolan Indonesia) datang ke desa itu dan berpidato, &#8220;Saudara-saudara. Di tengah serba krisis, di tengah serba memaksakan kehendak, di tengah serba kekerasan, yang penting ialah kemampuan untuk mentertawakan diri. Kok, bisa-bisanya kita begini. Hujat-menghujat, bunuh-membunuh, jarah-menjarah&#8230;&#8221; Kemudian, membentangkan spanduk gambar mulut yang sedang tertawa. Di sampingnya, ada tulisan: &#8220;Tertawalah! Men-<em>dagel</em>-lah! Membanyollah!</p>
<p>Orang yarg datang dari kabupaten melambai-lambaikan SK.</p>
<p>&#8220;Tunggu! Ini jauh lebih aneh!&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p><strong>Berjenjang naik, bertangga turun (&#8220;mengerjakan sesuatu harus menurut aturannya&#8221;).</strong></p>
<p>Sumber: UMMAT No. 28Thn. IV. 18 Januari 1999/30 Ramadhan 1419 H hal. 49</p>
<p>Disebarluaskan oleh <a href="http://wawankurniawan.net"><strong>Wawan Kurniawan</strong></a> dan <a href="http://cintahikmah.wordpress.com"><strong>Cinta Hikmah</strong></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintahikmah.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintahikmah.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintahikmah.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintahikmah.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintahikmah.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintahikmah.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintahikmah.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintahikmah.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintahikmah.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintahikmah.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintahikmah.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintahikmah.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintahikmah.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintahikmah.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=100&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintahikmah.wordpress.com/2010/10/03/biri-biri-berbulu-biru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cintahikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keuletan Jiwa</title>
		<link>http://cintahikmah.wordpress.com/2008/11/01/keuletan-jiwa/</link>
		<comments>http://cintahikmah.wordpress.com/2008/11/01/keuletan-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Nov 2008 02:58:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cintahikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serial Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintahikmah.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Serial Cinta Keuletan Jiwa Oleh Anis Matta Semangat penanggungan dan naluri keulungan adalah gelora moral dan jiwa sekaligus yang hanya mungkin metahirkan bunyi cinta yang nyaring kalau ia menggaung dalam ruang kepribadian yang ulet. Ulet. Pribadi yang ulet. Itu semua tentang daya tahan untuk terus memberi dan kemampuan untuk terus bertumbuh. Keuletan adalah ciri pribadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=90&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Serial Cinta<br />
Keuletan Jiwa<br />
Oleh Anis Matta</strong></p>
<p>Semangat penanggungan dan naluri keulungan adalah gelora moral dan jiwa sekaligus yang hanya mungkin metahirkan bunyi cinta yang nyaring kalau ia menggaung dalam ruang kepribadian yang ulet. </p>
<p>Ulet. Pribadi yang ulet. Itu semua tentang daya tahan untuk terus memberi dan kemampuan untuk terus bertumbuh.<br />
<span id="more-90"></span><br />
Keuletan adalah ciri pribadi yang kuat dan kokoh. Kerja-kerja batin dalam suatu tindakan cinta seperti memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi hanya mungkin dilakukan oleh jiwa-jiwa yang ulet: jiwa-jiwa yang selalu mampu menembus ketidakmungkinan, jiwa-jiwa yang selalu sanggup melawan kebosanan, jiwa-jiwa yang selalu bisa memecahkan kebekuan dan kemalasan, jiwa-jiwa yang selalu dapat mengalahkan kelelahannya sendiri.</p>
<p>Menjadi ulet adalah karakter utama yang diperlukan untuk menjadi pencinta sejati. Menumbuhkan dan merawat suatu hubungan jangka panjang, katakanlah sampai dua puluh lima atau lima puluh tahun, tentu saja membutuhkan daya tahan mental dan kemampuan untuk mempertahankan produktivitas hidup yang tinggi. </p>
<p>Lihatlah berapa lama waktu yang diperlukan para nabi untuk menyampaikan dakwahnya dengan hasil yang tidak dapat dipastikan? Lihatlah berapa lama waktu yang diperlukan para pemimpin bangsa untuk membangun bangsanya? Dalam kehidupan keluarga yang berlangsung hingga seperempat atau setengah abad, bagaimanakah kita mempertahankan kehangatan emosi melalui perhatian, penumbuhan, perawatan dan perlindungan terus menerus?</p>
<p>Keuletan adalah kesabaran pada maknanya yang progresif. Di sini bertahan tidak berarti berhenti. Di sini menanti tidak berarti melamun. Di sini mengalah tidak berarti mundur. Ulet adalah kata tentang geliat tanpa henti. Ulet adalah kata tentang pergerakan jiwa dalam dunia kebajikan yang tak selesai.</p>
<p>Jika ada latihan paling berat untuk menjadi pencinta sejati, maka inilah dia latihan itu: melatih jiwa menjadi ulet, meiatih jiwa untuk tetap dan terus bergerak di tengah semua kesulitan, melatih jiwa melawan kebosanan dan kemalasan serta kelelahan, melatih jiwa melawan kesedihan dan keputusasaan serta ketakutan, melatih jiwa untuk mempertahankan kegembiraan dan keriangan serta kesenangan dalam semua situasi, melatih jiwa untuk tetap produktif daiam semua rintangan, melatih jiwa untuk tetap optimis dan progresif menghadapi waktu.</p>
<p>Tidak mudah memang. Tapi jalan cinta selalu begitu; itu adalah cerita panjang tentang kebajikan yang tak dapat dikalahkan oleh waktu. Para pencinta sejati selalu mampu menembus dinding waktu itu ketika mereka menjeima menjadi pribadi-pribadi yang ulet, yang selalu bergeliat dan bergerak dalam kebajikan tanpa henti. Tidak mudah memang.</p>
<p>Tapi jalan cinta selalu begitu.</p>
<p>(Majalah Tarwabi edisi 153 Th.8/RabiulAwaL 1428 H/12 April 2007 M)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintahikmah.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintahikmah.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintahikmah.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintahikmah.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintahikmah.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintahikmah.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintahikmah.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintahikmah.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintahikmah.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintahikmah.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintahikmah.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintahikmah.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintahikmah.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintahikmah.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=90&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintahikmah.wordpress.com/2008/11/01/keuletan-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cintahikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Semangat Penanggungan</title>
		<link>http://cintahikmah.wordpress.com/2008/10/25/semangat-penanggungan/</link>
		<comments>http://cintahikmah.wordpress.com/2008/10/25/semangat-penanggungan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Oct 2008 02:56:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cintahikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serial Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintahikmah.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Serial Cinta Semangat Penanggungan Oleh Anis Matta Cinta tidak akan pernah berkembang menjadi rencana aksi kecuali ketika ia lahir dari semangat pertanggungjawaban. Cinta yang kuat adalah manifestasi dan sense of responsibility yang terus menerus bergelora dalam jiwa sang pencinta. Sebab cinta adalah tindakan. Bukan sekadar kata-kata. Atau janji-janji. Sebagian dari tindakan cinta itu adalah mengambil-alih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=88&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Serial Cinta<br />
Semangat Penanggungan<br />
Oleh Anis Matta</strong></p>
<p>Cinta tidak akan pernah berkembang menjadi rencana aksi kecuali ketika ia lahir dari semangat pertanggungjawaban. Cinta yang kuat adalah manifestasi dan sense of responsibility yang terus menerus bergelora dalam jiwa sang pencinta. Sebab cinta adalah tindakan. Bukan sekadar kata-kata. Atau janji-janji. </p>
<p>Sebagian dari tindakan cinta itu adalah mengambil-alih masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh orang yang kita cintai. Sebagiannya lagi adalah mengembangkan diri orang yang kita cintai secara terus-menerus. Tindakan cinta adalah keterlibatan terus-menerus pada masalah dan penumbuhan orang-orang yang kita cintai.<br />
<span id="more-88"></span><br />
Tantangan beratnya adalah bahwa orang-orang yang kita cintai terlalu sering tidak menyadari kebajikan yang kita suplai secara berkesinambungan kepada mereka. Bahkan sering tanpa sadar menjadi tergantung kepada kebajikan itu. Tapi seperti kepada matahari, udara dan air, sikap kita juga begitu: kita menjadi terlalu terbiasa dengan kebajikan Ilahiyah itu dan karenanya lupa untuk bersyukur dan menyatakan terima kasih yang tulus.</p>
<p>Jadi mencintai adalah sebuah keputusan besar yang kita buat dalam hidup kita. Dan seperti semua keputusan lainnya, keputusan untuk mencintai juga mengandung beban dan resiko. Maka semua pekerjaan yang harus dilakukan atas nama cinta selalu mengandung makna sebuah amanat, sebuah tugas, sebuah janji. </p>
<p>Misalnya menjadi pemimpin rakyat. Itu pekerjaan yang harus dilakukan atas nama cinta. Dan karenanya merupakan sebuah amanat, sebuah tugas, sebuah janji. Cinta dari semangat penanggungan itulah yang mengganggu tidur mereka senantiasa. </p>
<p>Lihatlah Umar bin Khattab yang tidak bisa tidur siang dan malam. &#8220;Bagaimana mungkin aku bisa tidur? Kalau aku tidur di siang hari lantas siapa yang mengurus rakyatku? Kalau aku tidur di ma]am hari lantas kapan aku bisa memenuhi hak diriku untuk bermunajat dengan Allah?&#8221;</p>
<p>Begitu juga perkawinan. Akad nikah adalah sebuah perjanjian yang keras. Seorang laki-laki yang mengambil-alih hak perwalian dari ayah perempuan yang menjadi istrinya harus menandatangani sebuah &#8216;aqad, sebuah kontrak, sebuah janji. </p>
<p>Laki-laki itu mengambil perempuannya dari perlidungan sang ayah dengan amanat Allah. Dalam kontrak itu ada sebuah komitmen sekaligus daftar kewajiban yang harus ditunaikan. Amanat itu yang selalu memastikan bahwa seorang suami yang bertanggung jawab &#8220;akan menghormati istrinya kalau ia mencintainya, tapi tidak akan pernah menzaliminya kalau kemudian ia tidak lagi mencintainya&#8221;.</p>
<p>Entah karena merasa sudah tua atau alasan lain suatu saat Saudah menawarkan kepada Rasulullah saw untuk memberikan giliran harinya kepada Aisyah yang lebih muda dan lebih dicintai Rasulullah saw. Tapi Rasulullah saw mengatakan, &#8220;Tidak! Kamu harus mendapatkan apa yang menjadi hakmu.&#8221;</p>
<p>Semangat pertanggungjawaban selalu begitu: melahirkan cinta yang tulus dan agung, karena ia membuat pandangan mata hatimu mampu menembus batas kebenaran yang tampak sekilas kepada hakikat abadi yang ada di sana: di haribaan Allah di hari keabadian.</p>
<p>(Majalah Tarbawi edisi 150 Th. 8/Safar 1428 H/ 1 Maret 2007 M)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintahikmah.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintahikmah.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintahikmah.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintahikmah.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintahikmah.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintahikmah.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintahikmah.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintahikmah.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintahikmah.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintahikmah.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintahikmah.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintahikmah.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintahikmah.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintahikmah.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=88&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintahikmah.wordpress.com/2008/10/25/semangat-penanggungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cintahikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mari Kita Belajar Mencintai</title>
		<link>http://cintahikmah.wordpress.com/2008/10/20/mari-kita-belajar-mencintai/</link>
		<comments>http://cintahikmah.wordpress.com/2008/10/20/mari-kita-belajar-mencintai/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 02:57:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cintahikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serial Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintahikmah.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Serial Cinta Mari Kita Belajar Mencintai Oleh Anis Matta Jika cinta, pada semua jenisnya, adalah kesadaran, adalah perasaan, adalah tindakan, maka cinta pada akhirnya adalah kemampuan yang terintegrasi dalam seluruh aspek kepribadian kita. Kemampuan seseorang untuk mencintai adalah gambaran paling utuh dari seluruh kapasitas kepribadiannya. Hanya orang-orang dengan kepribadian kuat dan kapasitas besar yang mampu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=85&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Serial Cinta<br />
Mari Kita Belajar Mencintai<br />
Oleh Anis Matta</strong></p>
<p>Jika cinta, pada semua jenisnya, adalah kesadaran, adalah perasaan, adalah tindakan, maka cinta pada akhirnya adalah kemampuan yang terintegrasi dalam seluruh aspek kepribadian kita. </p>
<p>Kemampuan seseorang untuk mencintai adalah gambaran paling utuh dari seluruh kapasitas kepribadiannya. Hanya orang-orang dengan kepribadian kuat dan kapasitas besar yang mampu mencintai. Orang-orang lemah, yang setiap saat bisa kita saksikan di sekitar kita, tidak akan pernah mencintai. Bahkan untuk mencintai diri mereka sekalipun. Takdir mereka adalah menantikan cinta dan kasih sayang orang-orang kuat.<br />
<span id="more-85"></span><br />
Orang-orang kuat mencintai dengan segenap kesadarannya. Maka mereka terus-menerus memproduksi kebajikan demi kebajikan. Sementara orang-orang lemah bahkan tidak memiliki kesadaran untuk mencintai. Maka mereka terus-menerus mengkonsumsi kebajikan orang-orang kuat. Itu sebabnya orang-orang kuat dalam masyarakat selalu merupakan faktor kohesi yang merekatkan masyarakat.</p>
<p>Mereka merekatkan masyarakat dengan cinta dan kebajikan mereka. Makna inilah yang ditebarkan oleh Rasulullah saw begitu beliau tiba di Madinah dan memulai kerja membangun negara baru itu: &#8220;Wahai sekalian manusia, tebarkan salam, berikan makan, bangun sholat malam saat orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan penuh damai&#8221;.</p>
<p>Ini merupakan penjelasan bagi keterangan selanjutnya. Bahwa untuk bisa mencintai, bahwa untuk menjadi pencinta sejati, kita harus mengembangkan kapasitas dan kepribadian kita. Cinta adalah pelajaran tentang bagaimana mengubah kepribadian kita untuk menjadi lebih baik secara berkesinambungan, pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang produktif untuk bisa memberi, pelajaran tentang bagaimana menjadi orang kuat yang penyayang, pelajaran tentang bagaimana melimpahruahkan kebajikan abadi bagi penumbuhan kehidupan orang-orang di sekitar kita yang kadang berujung tanpa sedikitpun rasa terima kasih, atau bahkan penolakan.</p>
<p>Ini bukan pelajaran tentang teknik atau keterampilan mencintai seperti ketika belajar tentang tehnik berkomunikasi dengan orang lain, atau bagaimana merebut hati seseorang untuk suatu hubungan cinta asmara. Bukan. Sama sekali bukan tentang itu. </p>
<p>Ini adalah pelajaran tentang bagaimana membangun kembali dasar-dasar kepribadian yang kokoh dan tangguh, yang memungkinkan kita mencintai secara sadar, bertanggungjawab dan bertindak produktif untuk membuktikan cinta itu dalam kenyataan. Dan dengan begitu cinta bukan saja berefek pada perbaikan berkesinambungan terhadap hubungan-hubungan kemanusiaan kita, tapi juga terutama pada perbaikan kehidupan kita seluruhnya secara berkesinambungan.</p>
<p>Dan ini mungkin dan terbuka. Semua kita bisa mempelajarinya. Alasannya sangat sederhana. Rasulullah saw bersabda: &#8220;Ilmu diperoleh dengan belajar. Kesabaran diperoleh dengan belajar menjadi sabar. Kesantunan diperoleh dengan belajar menjadi santun.&#8221; </p>
<p>Ini menjelaskan bahwa di samping karakter-karakter bawaan yang melekat dalam diri kita sebagai warisan genetik, semua karakter lain bisa kita peroleh dengan mempelajari dan mengimplementasikannya dalam kehidupan kita.</p>
<p>Begitu juga cinta. Begitu juga cinta. Semua kita bisa mencintai. Semua kita mungkin menjadi pencinta sejati. Asal kita kita mau belajar. Asal kita mau belajar bagaimana mencintai.</p>
<p>Majalah Tarhawi edisi 148 Th. 8/Muharram 1428 H/1 Februari 2007 M</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintahikmah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintahikmah.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintahikmah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintahikmah.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintahikmah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintahikmah.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintahikmah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintahikmah.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintahikmah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintahikmah.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintahikmah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintahikmah.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintahikmah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintahikmah.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=85&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintahikmah.wordpress.com/2008/10/20/mari-kita-belajar-mencintai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cintahikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Ujung Pengalaman Pahit</title>
		<link>http://cintahikmah.wordpress.com/2008/10/15/di-ujung-pengalaman-pahit/</link>
		<comments>http://cintahikmah.wordpress.com/2008/10/15/di-ujung-pengalaman-pahit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 02:55:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cintahikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serial Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintahikmah.wordpress.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Serial Cinta Di Ujung Pengalaman Pahit Oleh Anis Matta &#8220;Kenapa kamu takut bunuh diri?&#8221;, tanya letaki itu gamang. &#8220;Dan kamu, kenapa kamu tidak mau melanjutkan hidup?&#8221; kawannya gamang juga, namun tetap berusaha optimis. Dua orang dekat Hitler itu saling menatap dalam ketakutan pada menit-menit terakhir menjelang kejatuhan Berlin ke tangan Soviet, dan yang pasti akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=84&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Serial Cinta<br />
Di Ujung Pengalaman Pahit<br />
Oleh Anis Matta</strong></p>
<p>&#8220;Kenapa kamu takut bunuh diri?&#8221;, tanya letaki itu gamang.</p>
<p>&#8220;Dan kamu, kenapa kamu tidak mau melanjutkan hidup?&#8221; kawannya gamang juga, namun tetap berusaha optimis.</p>
<p>Dua orang dekat Hitler itu saling menatap dalam ketakutan pada menit-menit terakhir menjelang kejatuhan Berlin ke tangan Soviet, dan yang pasti akan mengakhiri riwayat petualangan Hitler. Di medan tempur mereka kalah, dan di medan hati semua rasa berkecamuk: antara ketakutan, kesetiaan, keberanian, kehormatan dan kesia-siaan.<br />
<span id="more-84"></span><br />
Ketika akhirnya Soviet merebut Berlin, lelaki yang pertama akhirnya menembak kepalanya sendiri: &#8220;Karena saya sudah berjanji pada Hitler, bahwa saya akan mengikuti jejaknya: bunuh diri begitu Soviet merebut Berlin&#8221;. Tapi lelaki yang kedua akhirnya menyerah dan memilih bersama dengan Soviet, namun terus hidup: &#8220;Karena saya tidak ingin mati sia-sia&#8221;.</p>
<p>Kematian selalu mengajar manusia menghargai kehidupan. Seperti perang memaksa manusia mengharapkan perdamaian. Setiap kali kegilaan angkara murka membinasakan hidup manusia, saat itu akal sehat hadir dengan tawaran yang sederhana: tinggalkan kesia-siaan ini dan hargailah hidup. </p>
<p>Maka di ujung keberanian yang sebenarnya adalah kegilaan, selalu muncul ketakutan yang malu-malu; tapi itu sebenarnya adalah harapan yang tulus untuk tetap bertahan hidup dan terbebas dari kesia-siaan. Dialog yang terekam dengan baik dalam film Dawn Fall itu sebenarnya merupakan dialog antara kegilaan dan akal sehat, antara kematian dan kehidupan, antara kehormatan dan kesia-siaan.</p>
<p>Begitulah selalu kejadiannya: cinta manusia pada perdamaian selalu lahir sesudah perang panjang yang sia-sia. Cinta damai itu adalah ikrar akal sehat yang lahir di ujung pengalaman pahit yang memilukan. Perang Dunia Kedua yang telah membinasakan puluhan juta nyawa manusia akhirnya melahirkan PBB dengan cita-cita yang sederhana: menciptakan perdamaian dunia.</p>
<p>Perdamaian adalah maslahat kemanusiaan yang agung. Tapi manusia tidak selalu mencintainya sejak awai. Mereka perlu melamapaui kegilaan angkara murka untuk merasakan kebutuhan yang sangat pada perdamaian itu. Itu sebabnya cinta maslahat yang lahir dari akal sehat ini selalu merupakan temuan dari pengalaman pahit.</p>
<p>Dan itu tabiat manusia pada dasarnya: mereka membutuhkan benturan untuk menjadi lebih baik. Seperti cinta maslahat itu. Seperti cinta damai itu.</p>
<p>(Majalah Tarbawi edisi 147 Th. 8/Dzulhijjah 1427 H/1B Januan 2007 M)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintahikmah.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintahikmah.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintahikmah.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintahikmah.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintahikmah.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintahikmah.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintahikmah.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintahikmah.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintahikmah.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintahikmah.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintahikmah.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintahikmah.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintahikmah.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintahikmah.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=84&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintahikmah.wordpress.com/2008/10/15/di-ujung-pengalaman-pahit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cintahikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta dari Maslahat Pribadi</title>
		<link>http://cintahikmah.wordpress.com/2008/10/10/cinta-dari-maslahat-pribadi/</link>
		<comments>http://cintahikmah.wordpress.com/2008/10/10/cinta-dari-maslahat-pribadi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 02:54:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cintahikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serial Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintahikmah.wordpress.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Serial Cinta Cinta dari Maslahat Pribadi Oleh Anis Matta Memang gagah laki-laki itu. Tinggi, besar, ganteng dan seorang pemberani. Ia senang berburu. Dan ia memanjakan kegemaran pribadinya itu sejauh yang bisa ia lakukan. Maka ia pun berburu ke seluruh tempat perburuan di manca negara: Afrika, Amerika, Kanada, Asia Tengah, Eropa Timur, dan lainnya. Meskipun untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=79&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Serial Cinta<br />
Cinta dari Maslahat Pribadi<br />
Oleh Anis Matta</strong></p>
<p>Memang gagah laki-laki itu. Tinggi, besar, ganteng dan seorang pemberani. Ia senang berburu. Dan ia memanjakan kegemaran pribadinya itu sejauh yang bisa ia lakukan. </p>
<p>Maka ia pun berburu ke seluruh tempat perburuan di manca negara: Afrika, Amerika, Kanada, Asia Tengah, Eropa Timur, dan lainnya. Meskipun untuk setiap kali berburu ia harus mengeluarkan uang ratusan juta atau bahkan milyaran rupiah.<br />
<span id="more-79"></span><br />
Bukan cuma itu. Ia juga mengoleksi hasil buruannya dalam sebuah galeri besar: bangunan berlantai tiga. Walau pun galeri ini terletak di Medan, tapi mungkin bahkan yang terbesar di Asia. Maka tidak heran kaiau untuk semua itu ia tercatat sebagai salah seorang the great hunter di jagad ini.</p>
<p>Orang-orang melakukan kerja-kerja besar bahkan raksasa, mengerahkan semua pikiran, energi, waktu dan sumber daya lainnya untuk sesuatu yang ia gemari, sesuatu yang ia senangi, sesuatu yang ia cintai. </p>
<p>Kita sebut ini hobi. Tapi sumber energinya adalah cinta. Itu yang menjelaskan mengapa hasilnya selalu besar, selalu spektakuler, selalu luar biasa, selalu menakjubkan.</p>
<p>Jadi hobi adalah kegemaran, kesenangan dan cinta yang bermuara pada hajat dan maslahat pribadi seseorang. Maslahat pribadi itu biasanya benar-benar pribadi. Misalnya dalam kasus perburuan ini adalah kepuasan batin, eksplorasi perasaan kejantanan dan maskulinitas, kebanggaan dan keberanian, semangat petualangan dan seterusnya. Biasanya juga tidak merusak orang lain atau kepentingan publik. Karena orientasinya adalah pemuasan pribadi.</p>
<p>Tapi kadang-kadang maslahat pribadi itu bisa juga terkait dengan maslahat umum yang lebih besar. Misalnya jika kegemaran berburu itu dilakukan dalam kerangka konservasi alam dan hasilnya untuk kepentingan pendidikan bagi publik. Atau perburuan barang-barang antik dari para kolektornya untuk kemudian disimpan dalam sebuah museum pribadi tapi bisa dinikmati publik.</p>
<p>Kadang juga tidak bisa dikaitkan sama sekali dengan maslahat publik. Tapi sumber energinya bisa dialihkan pada pekerjaan lain yang lebih bermanfaat bagi publik. </p>
<p>Sebab hobi adalah sumber energi yang sangat dahsyat dalam diri seseorang. Misalnya jika kita bisa mengalihkan hobi para pencinta binatang kepada pencinta manusia. Maka kegemaran merawat, melindungi, dan memelihara binatang dialihkan menjadi perawatan, perlindungan dan pemeliharaan manusia. </p>
<p>Hasilnya bisa sama dahsyatnya. Misalnya dalam bidang aktivitas sosial atau pendidikan.</p>
<p>Cerita itulah yang mengawali perubahan hidup dari seorang da&#8217;i besar abad lalu: Umar Tilmsani.<br />
Mursyid Am ketiga Ikhwanui Muslimin ini pada mulanya adalah seorang pencinta binatang. Areal rumah pribadinya yang hampir satu hektar dipenuhi dengan binatang peliharaannya. Dan ia sedang bermain dengan binatang-binatang itu ketika sekelompok pemuda dakwah mendatanginya dalam kerangka rekrutmen dakwah. </p>
<p>Mereka tidak banyak bicara soal dakwah. Mereka justru ikut bicara soal binatang. Tapi di ujung pertemuan itu mereka mengeluarkan sebuah komentar yang kemudian mengubah seluruh hidup Umar Tilmsani. Mereka berkata pada beliau, &#8220;Seandainya kegemaran memelihara binatang ini dialihkan kepada memelihara manusia, mungkin itu akan jauh lebih bermanfaat. Sebab manusia muslim yang memerlukan pendidikan jauh lebih banyak dan lebih penting dari binatang-binatang ini.&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintahikmah.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintahikmah.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintahikmah.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintahikmah.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintahikmah.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintahikmah.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintahikmah.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintahikmah.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintahikmah.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintahikmah.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintahikmah.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintahikmah.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintahikmah.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintahikmah.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintahikmah.wordpress.com&amp;blog=2930962&amp;post=79&amp;subd=cintahikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintahikmah.wordpress.com/2008/10/10/cinta-dari-maslahat-pribadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cintahikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
