Kancil Mabuk
Oleh Kuntowijoyo
Kancil membawa botol di tangan. Sempoyongan, terhuyung-huyung. Anak-anak para penghuni hutan membuntutinya ke mana pun ia pergi, sehingga mirlp karnaval. Di bawah setiap pohon besar, dia berhenti. Dikelilingi para penghuni, membentuk lingkaran, ia mulai mengoceh:
“Saudara-saudara. Ketika penjahat berbicara tentang akal sehat, ketika pencuri berkhotbah dengan Kitab Suci, ketika yang jahil pandai mendalil, rusaklah tatanan hutan.”
“Horeee! Horeee!” anak-anak binatang bersorak.
Setiap berhenti, ia dikerumuni dan berbicara kalimat-kalimat yang sama. Anak-anak bersorak. Hanya polisi-polisi binatang yang direkrut dari suku anjing mulai gelisah. Dari hari ke hari kecuri-gaan mereka bertambah-tambah.
“Dia tidak teler.”
“Omongannya urut.”
“Kata-katanya masuk akal. Sesuai kenyataan.”
“Husss! Husss!”
“Pidatonya berbahaya!”
“Makar!”
“Kita harus lapor.”
Binatang yang mengerumuni kancil bertambah hari bertambah banyak. Jadilah para binatang polisi semakin geram. Soalnya, kalau terjadi apa-apa di hutan, merekalah yang bertanggung jawab. Mereka melapor kepada Kepala Polisi. Kepala itu sudah tahu duduk perkaranya.
“Pak Kepala, kancil membahayakan negeri.”
“Ah, negeri kita kuat, aman, makmur, dan sentosa.”
“Pidato-pidato kancil ada potensi menghasut.”
“Tidak ada yang percaya omongan pemabuk.”
“Tapi, Pak.”
“Tidak ada tetapi, kembalilah ke tugas masing-masing.”
Tidak berhasil meyakinkan Kepala, mereka kembali. Memang ada perbedaan persepsi antara atas dan bawah, antara mereka yang hanya memberi perintah-perintah dengan mereka yang ada di lapangan.
Bagi mereka yang di lapangan, kancil mabuk benar-benar seperti klilip di mata.
Bagi penghuni hutan, melihat kancil membawa botol, berteduh di bawah pohon besar, dan berpidato sudah menjadi bagian dari hidup. Kalau kebetulan hujan besar dan kancil tidak muncul, rasa-rasanya ada yang kurang. Kancil, botol, dan pidato jadi sebuah institusi. Anak-anak, remaja, pemuda, dan para tetua binatang hafal di luar kepala pidato kancil.
Tiba-tiba kancil menghilang. Lenyap begitu saja, wusss. Tak ada lagi botol, tak ada lagi pidato. Anak-anak yang mengharap kemunculannya hanya bisa gigit jari. Binatang-binatang kehilangan hiburan langka. Di bawah pohon besar, tempat yang biasa disinggahi kancil, binatang-binatang berseliweran sambil mengharap kalau-kalau kancil muncul. Tetapi tidak, kancil tetap tak kelihatan batang hidungnya.
Tiba-tiba-apa boleh buat memang tiba-tiba-di setiap pohon besar muncul “kancil-kancil” baru yang terdiri dari kambing, kelinci, kucing, sapi, dan sebagainya. Semua meniru gaya, suara, dan isi pidato kancil. Kembali hutan jadi semarak, malah lebih ramai. Tidak perlu lagi karnaval. Mereka cukup membentuk lingkaran di bawah pohon besar.
Anak-anak kembali bersorak, “Horeee! Horeee!”
Binatang-binatang polisilah yang dibuat sibuk.
“Kok, malah banyak!”
“Hilang satu tumbuh dua puluh satu!”
“Ini bagaimana?”
Mereka pergi ke Kepala Polisi.
Sambil geleng-geleng kepala dia berkata: “Ck. ck. Sudah kubilang, biarkan saja.”
“Dibiarkan bagaimana, Pak?” ¦
Sementara mereka omong-omong, lima puluhan binatang muda datang.
“Kembalikan kancil!”
“Suara kancil; suara kami!”
“Mana tanggung jawabmu?”
Kepala Polisi muncul.
“Huuuu!” sambut mereka.
“Tenang, tenang.”
“Huuuu!”
“Kami sedang mencari kancil.”
“Kura-kura dalam perahu, huuuu!”
“Beri kami waktu.”
Kepala Polisi marah-marah kepada anak buahnya.
“Mesti ada yang melanggar disiplin. Kuberi kalian tujuh kali matahari terbit. Kuperintahkan, kembalikan kancil, sehat walafiat. Titik.”
Tetangga negeri, tempat suku kambing, mendengar bahwa kancil telah hilang. Negeri tetangga itu mengirim utusan menanyakan keberadaan kancil. Seperti diketahui, kancil dan kambing bersaudara. Mereka mengancam, kalau dalam waktu tertentu, kancil tidak kembali, aliran sungai yang melewati Negeri Kambing akan dialihkan.
Akhirnya kaneil kembali. Ia seperti semula, tapi kali ini tanpa botol, tidak sempoyongan, tidak terhuyung.
“Saudara-saudara. Ketika penjahat berbicara tentang akal sehat…”
—–
“…. mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?” (Q.S. Ash-Shaff, 61: 3)
Sumber: UMMAT No. 44 Tahun IlI 25 Mei 1998/28 Muharam 1419 H hal.41
Disebarluaskan oleh Wawan Kurniawan dan Cinta Hikmah