Biri-Biri Berbulu Biru
Oleh Kuntowijoyo
Setelah reformasi, desa itu kedatangan seorang peramal. Di gardu siskamling, dia berhenti. Katanya, desa itu harus dipimpin oleh orang aneh, mempunyai kelebihan, bukan orang biasa-biasa saja. Kalau demikian, maka pemuda-pemuda utara pematang akan berhenti tawur dengan pemuda-pemuda selatan pematang. Mereka biasa tawur hanya karena soal-soal sepele, seperti lirik-melirik di jalan, senggol-menyenggol waktu nonton layar tancep alias bioskop misbar (gerimis bubar), dan dahulu-mendahului bersepeda.
Mata semua orang tertuju pada Pak Sani, peternak yang baru-baru ini bikin geger desa karena biri-birinya melahirkan seekor anak dengan bulu berwarna biru. Orang-orang dari desa lain, bahkan dari kota, datang untuk melihat keanehan itu. Dan orang-orang desa menjadi makmur berkat titipan sepeda, sepeda motor, dan bahkan mobil. Tawur hilang, utara dan selatan damai. Lihat, belum jadi kades saja sudah mampu membuat mereka tak bertengkar.
Tentang kambing itu, orang berkomentar:
“Bulunya biru!”
“Darahnya putih!”
“Biri-biri bangsawan!”
“Dapat nglungsungi” Mengganti kulit.
Lalu orang ingat Kades. Kades itu dipersangkakan terlibat KKN dengan tukang foto waktu desa membuat KTP dan terlibat KKN dengan PLN waktu ada program LMD (Listrik Masuk Desa). Pendek kata, warga memutuskan untuk menurunkan Pak Kades, diganti dengan Pak Sani. Sesudah golong, gilig, dan bertekad, warga menuju Balai Desa. Alasan bahwa Kades hanya mau turun berdasarkan pilkades dan bahwa ia tidak melakukan KKN, tidak diterima. Kades harus turun hari itu juga.
Kemudian massa ke kabupaten, berdemo supaya Bupati memecat Kades dan mengangkat Pak Sani. Waktu itu, massa berkuasa, apa boleh buat, Bupati menurut. Pak Sani berusaha keras menolak jabatan itu dengan alasan dia tidak bisa baca-tulis.
“Kita tidak perlu orang pintar. Pinter keblinger (pintar tersesat). Kita perlu orang aneh,” kata orang.
Alasan bahwa yang aneh adalah biri-birinya dan bukan dia, juga ditertawakan orang. “Kaukira kami akan mengangkat biri-biri sebagai Kades?”
Pak Sani didaulat jadi kades.
Malang, bulu biri-biri itu memudar, makin lama makin putih. Bersama dengan memudarnya bulu biri-biri, kepercayaan orang pada Pak Sani ikut surut. Pengunjung mulai kecewa.
“Kok, tidak biru betul?”
“Matamu yang kurang awas.”
Rombongan orang yang datang pakai truk juga begitu. Mereka gagal melihat kebiruan bulu biri-biri. Kalau sepasang mata mungkin saja keliru, tetapi tidak untuk tiga puluh lima pasang.
Menyadari akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Pak Sani menyembunyikan biri-birinya. Ia minta diumumkan bahwa tontonan biri-biri ditutup sementara. Para tetangga heran. Ke mana kambing itu pergi.
Kalau ditanyakan pada Pak Sani, jawabnya, “Sedang berganti kulit!”
Kambing disembunyikan makin lama makin ke dalam, seiring dengan makin putihnya bulu. Ketika persembunyian sang kambing sampai tempat tidur, istri Pak Sani keberatan.
Pak Sani menemukan akal! Laki-laki pasti ditolong Tuhan, pikirnya. Bagaimana kalau dia mencat biru bulu itu? Bagi peternak seperti dia, itu termasuk pikiran cemerlang. Kabarnya ada cat rambut berwarna biru. Ia pergi ke kota.
Kambing kembali ke kandang. Orang kembali datang. Ada seorang yang usil, membalik-balik bulu biri-biri.
“Kok, putih di sini?” Mereka undang Pak Sani alias Pak Kades untuk bertanggung jawab.
Tentu saja, perias pun takkan sanggup mencat rata seekor biri-biri. “Itulah yang terjadi,” katanya pasrah. Menceritakan apa adanya.
Warga sibuk mencari pengganti. Kebetulan ada orang selesai tapa mendhem, bertapa dengan dikubur. Orang itu didaulat menjadi kades. Warga juga ke Bupati minta SK.
Kades baru itu suka menganjurkan warganya, “Kuncinya adalah prihatin,” katanya dalam setiap sambutan pernikahan, sunatan, dan kematian. “Saudara-saudara, kuncinya adalah prihatin!”
Tapi, itu hanya beberapa minggu. Pemuda utara pematang lemparan-lemparan batu dengan pemuda selatan pematang. Gara-garanya sederhana: ada pemuda selatan lewat membawa radio yang kedengarannya seperti dibunyikan keras-keras.
Warga berpikir bahwa Kades tidak cocok, mencari Kades baru.
Kebetulan, ada mahasiswa filsafat sedang KKN di desa itu. Salah seorang yang pandai bergaul pada semua orang selalu mengatakan bahwa satu tambah satu tidak selalu dua. Dua tambah dua tidak selalu empat.
“Ini aneh!”
“Angkat dia jadi Kades!” Kemudian orang pergi ke kabupaten untuk minta SK.
Sementara orang pergi, ada anggota Pabi (Partai Banyolan Indonesia) datang ke desa itu dan berpidato, “Saudara-saudara. Di tengah serba krisis, di tengah serba memaksakan kehendak, di tengah serba kekerasan, yang penting ialah kemampuan untuk mentertawakan diri. Kok, bisa-bisanya kita begini. Hujat-menghujat, bunuh-membunuh, jarah-menjarah…” Kemudian, membentangkan spanduk gambar mulut yang sedang tertawa. Di sampingnya, ada tulisan: “Tertawalah! Men-dagel-lah! Membanyollah!
Orang yarg datang dari kabupaten melambai-lambaikan SK.
“Tunggu! Ini jauh lebih aneh!”
—–
Berjenjang naik, bertangga turun (“mengerjakan sesuatu harus menurut aturannya”).
Sumber: UMMAT No. 28Thn. IV. 18 Januari 1999/30 Ramadhan 1419 H hal. 49
Disebarluaskan oleh Wawan Kurniawan dan Cinta Hikmah